Archive for August, 2008

Kesederhanaan

August 7, 2008

Pada saat kuliah saya cenderung untuk berteman dengan orang-orang yang hidupnya sederhana, dan 2 diantaranya yang sampai saat ini masih terus saling berhubungan adalah Surya dan Arief

Surya sekarang bekerja di sebuah perusahaan pengasil CBT ( computer base training ) bagi dunia pendidikan di daerah depok dan memiliki istri yang bekerja di perusahaan farmasi.

Arief, lulusan akademi kesehatan ini sekarang berwiraswata dalam berbagai macam ragam bidang kegiatan, dari berjualan pakaian, kambing, sampai mengerjakan pekerjaan networking, dikarunia 4 orang anak dan 2 diantara kembar.

Yang selalu saya ingat dari temen2 saya ini adalah kesederhanaan mereka, Surya walaupun hidup berkecukupan karena memang orang tua bekerja sebagai diplomat tetapi tidak pernah menjalani kehidupan secara berlebihan bahkan cenderung pada sangat sederhan , karena sejak SMP sudah diamanahi menjaga adiknya di Indonesia. Sampai saat ini kendaraan yang dimiliki hanya motor hadiah dari sebuah bank karena mungkin tabungan yang dimilikinya pantas mendapatkan hadiah tersebut.

Bahkan Arief walaupun dari keluarga berada dan semua saudaranya berhasil tidak pernah mau meminta bantuan dalam memenuhi kebutuhan hidup kepada kakak2 nya…lebih senang mencari pengasilan sendiri walaupun kecil.

Dan kemuliaan ada di antara mereka, mereka sangat senang jika mampu menolong orang yang sedang dilanda kesusahan.

pernah saya dan Surya berdiskusi hebat mengenai pentingnya kekayaan dalam berdakwah, saya berpikiran seoarang muslim haruslah kaya agar dapat membantu dakwah, sementara Surya berpendapat kekayaan tidak menjamin seseorang aktif berada di jalan dakwah. Saking hebatnya sampai-sampai surya berpikiran kalo saya sudah berubah karena pd saat ini memang saya sedang di promosikan oleh perusahaan untuk menduduki posisi tertentu yang berimpact pada pendapatan saya.

tetapi saya meyakinkan bahwa kekayaan tidak ada urusan dengan kesederhanaan, seseorang yang kaya tidak perlu merubah gaya hidup ketika mendapat nikmat kekayaan.

Seseorang yang bisa memakai sendal jepit ketika keluar dari rumah walaupun mampu membeli sepatu/sandal sport yg mahal , memakai motor untuk berpergian walaupun ada kemampuan membeli mobil , menikmati makanan pinggir jalan diantara banyaknya cafe dan makanan import, memakai baju yang dibeli dipasar traditional ditengah maraknya barang-barang bermerk luar negri..tidak akan merubah kebiasaanya hanya karena mendapat kekayaan..itulah kesederhanaan yang terus dijaga.

Dan itulah kesederhaan yang tetapi dijaga oleh Surya, Arief dan beberapa saudara-saudara saya dalam perjuangan, kekayaan tidak merubah mereka menjadi manusia yang berlebihan dimana banyak orang bilang sebagai penyesuaian gaya hidup karena kami memiliki bukan yang kami inginkan tetapi kami memiliki apa yang kami butuhkan.

dan itulah yang selalu saya jadikan pegangan dalan kehidupan saya dan Allhamdulillah Allah juga menganugrahi saya seseorang yang juga mencintai kesederhanaan.

“Simple is beautiful & Humble is honourable”

Hukuman Mati

August 5, 2008

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi dengan berita tentang hukuman mati yang dilaksanakan terhadap beberapa terhukum yang dinyatakan bersalah dengan berbagai kejahatan, mulai dari pengedar narkoba sampai pembunuh yang membunuh beberapa orang sekaligus dan juga pembunuh berantai .

heran kenapa koruptor tidak dihukum mati, padahal kejahatan mereka juga sangat kejam karena membunuh rakyat secara perlahan..seorang humanis menyatakan bahwa mereka keberatan terhadap hukuman mati terhadap koruptor dengan alasan hak asasi manusia, “negara tidak punya hak mengambil hak hidup orang”..jika negara saja dilarang mengambil hak hidup orang..lalu mengapa koruptor boleh mengambil hak hidup rakyat dengan kelaparan dan penderitaan..dan sang “humanist” kebingungan ketika ditanya mengapa dia lebih membela nyawa satu orang daripada nyawa berjuta-juta rakyat indonesia.

kembali ke masalah hukuman mati, kadang kita tidak sadar merasa kasihan dengan orang-orang yang menjalani hukuman mati dengan di eksekusi oleh regu tembak tersebut, padahal kita harusnya merasa kasihan dengan diri kita sendiri…why ?

karena bukankah orang-orang yang menjalani hukuman mati sudah jelas kapan mereka akan menghadap Tuhan yang menciptakan mereka untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya ? dengan waktu yang telah ditentukan pengadilan ? sehingga mereka mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi pertanggung jawaban tersebut.

Sedangkan kita ? kita tidak pernah tau kapan kita akan dipanggil menghadap sang pencipta ? dan kita tidak pernah tau aktivitas apa yang sedang kita lakukan ketika menghadap sang pencitpa ? dan kita tidak pernah sadar untuk mempersiapkan diri ?

Jadi seharusnya kita kasihan terhadap mereka atau terhadap diri kita sendiri ?