Kesederhanaan

By iwibisana

Pada saat kuliah saya cenderung untuk berteman dengan orang-orang yang hidupnya sederhana, dan 2 diantaranya yang sampai saat ini masih terus saling berhubungan adalah Surya dan Arief

Surya sekarang bekerja di sebuah perusahaan pengasil CBT ( computer base training ) bagi dunia pendidikan di daerah depok dan memiliki istri yang bekerja di perusahaan farmasi.

Arief, lulusan akademi kesehatan ini sekarang berwiraswata dalam berbagai macam ragam bidang kegiatan, dari berjualan pakaian, kambing, sampai mengerjakan pekerjaan networking, dikarunia 4 orang anak dan 2 diantara kembar.

Yang selalu saya ingat dari temen2 saya ini adalah kesederhanaan mereka, Surya walaupun hidup berkecukupan karena memang orang tua bekerja sebagai diplomat tetapi tidak pernah menjalani kehidupan secara berlebihan bahkan cenderung pada sangat sederhan , karena sejak SMP sudah diamanahi menjaga adiknya di Indonesia. Sampai saat ini kendaraan yang dimiliki hanya motor hadiah dari sebuah bank karena mungkin tabungan yang dimilikinya pantas mendapatkan hadiah tersebut.

Bahkan Arief walaupun dari keluarga berada dan semua saudaranya berhasil tidak pernah mau meminta bantuan dalam memenuhi kebutuhan hidup kepada kakak2 nya…lebih senang mencari pengasilan sendiri walaupun kecil.

Dan kemuliaan ada di antara mereka, mereka sangat senang jika mampu menolong orang yang sedang dilanda kesusahan.

pernah saya dan Surya berdiskusi hebat mengenai pentingnya kekayaan dalam berdakwah, saya berpikiran seoarang muslim haruslah kaya agar dapat membantu dakwah, sementara Surya berpendapat kekayaan tidak menjamin seseorang aktif berada di jalan dakwah. Saking hebatnya sampai-sampai surya berpikiran kalo saya sudah berubah karena pd saat ini memang saya sedang di promosikan oleh perusahaan untuk menduduki posisi tertentu yang berimpact pada pendapatan saya.

tetapi saya meyakinkan bahwa kekayaan tidak ada urusan dengan kesederhanaan, seseorang yang kaya tidak perlu merubah gaya hidup ketika mendapat nikmat kekayaan.

Seseorang yang bisa memakai sendal jepit ketika keluar dari rumah walaupun mampu membeli sepatu/sandal sport yg mahal , memakai motor untuk berpergian walaupun ada kemampuan membeli mobil , menikmati makanan pinggir jalan diantara banyaknya cafe dan makanan import, memakai baju yang dibeli dipasar traditional ditengah maraknya barang-barang bermerk luar negri..tidak akan merubah kebiasaanya hanya karena mendapat kekayaan..itulah kesederhanaan yang terus dijaga.

Dan itulah kesederhaan yang tetapi dijaga oleh Surya, Arief dan beberapa saudara-saudara saya dalam perjuangan, kekayaan tidak merubah mereka menjadi manusia yang berlebihan dimana banyak orang bilang sebagai penyesuaian gaya hidup karena kami memiliki bukan yang kami inginkan tetapi kami memiliki apa yang kami butuhkan.

dan itulah yang selalu saya jadikan pegangan dalan kehidupan saya dan Allhamdulillah Allah juga menganugrahi saya seseorang yang juga mencintai kesederhanaan.

“Simple is beautiful & Humble is honourable”

2 Responses to “Kesederhanaan”

  1. muzaqi Says:

    Zuhud itu artinya meninggalkan, dari kata zahada. Meninggalkan dunia berarti pada saat ybs sedang jaya-jayanya, sedang kaya-kayanya, rela untuk meninggalkan semua itu. Contoh riil; Usamah bin Ladin.

    Masalahnya, kalau kita sudah kaya, bisakah ujian kekayaan tersebut menjadikan kita zuhud?

    Tapi jika kita memang (mungkin terbilang) sederhana, mau gak mau akan dipaksa untuk zuhud. Karena memang tidak punya apa-apa yang bisa digunakan sebagai parameter materiil.

    Jadi enaknya gimana? Bersyukur dengan apapun yg sekarang ini kita miliki. Tetap berusaha semaksimal mungkin menjemput rejeki. Perkara hasil yg datang dari usaha tersebut ternyata berlebih, silahkan dinikmati. Anggap sebagai risiko, bukan hasil :)

    Wah komentarku kok banyak ya? ^_^

  2. iwibisana Says:

    he..he…seperti biasa..mantap lah…comment dari orang yang pikiranya jauh dan cepat kedepan ini…

Leave a Reply