Toko serba ada A*** Mart itu sudah menjadi langganan saya dan istri , bukan untuk berbelanja, tapi karena disana ada Mesin ATM dari salah satu bank yang biasa kita manfaatkan untuk mengambil uang cash dan sesekali berbelanja jika anak-anak merengek minta coklat atau minuman segar, selain itu toko itu terletak di jalan biasa saya lewat ketika pergi dan pulang ke kantor.
Saya inget pertama kali bertemu dengan Mak Alus adalah ketika suatu malam sepulang kerja saya mampir ketoko tersebut karena anak-anak memesan makanan kecil, waktu itu hampir jam 9 atau 10 malam, saya melihat Mak Alus sedang memunguti gelas-gelas plastik bekas air mineral di belakang penjual gorengan. Ya saya cukup terkesima juga karena saya melihat seorang nenek yang sudah sangat tua dan membawa gerobak pemulung yang tidak terlalu besar. Pertemuan pertama itu hanya sekilas saja karena saya buru-buru mengantarkan pesanan putri-putri saya sebelum mereka tertidur,
Setelah itu beberapa kali saya meliha mak Alus sering berada ditempatnya , sebuah tempat dipinggir tembok dan besampingan dengan bak sampah sebuah rumah di samping toko , saya sering melihatnya malam-malam antara jam 9 sampai jam 10 , dan saya masih saja memperhatikan tanpa berhenti untuk bertanya atau memberikan sesuatu. Mak Alus biasanya duduk berjongkok disamping gerobaknya, terlihat dia begitu lelah dan terkantuk.
Pertemuan kedua ketika saya, istri dan anak-anak berangkat untuk membeli perlengkapan sekolah mereka, kali ini saya mampir untuk mengambil uang cash. Seinget saya waktu itu selepas magrib dan Mak Alus sudah berada diposisinya disamping pagar yang gelap, rupanya kali ini malaikat kebaikan berhasil sedikit menyapu hati saya yang biasanya keras sehingga tidak peduli dengan dirinya, saya meminta istrii saya untuk memberikan lebaran 10 ribuan untuk diberikan kepada Mak Alus, lalu kami pergi begitu saja…diperjalan saya sedikit bercerita mengenai pengalaman melihat Mak Alus beberapa kali.
Beberapa waktu kemudian saya melihat Mak Alus ditemani oleh seorang lelaki yang juga tampak sudah sangat tua, lelaki itu mengambil posisi duduk sedikit tersembunyi disamping tanaman dan gerobak sementar Mak Alus tampak sedang berbicara dengannya.
Baru pada pertemuan ketiga saya memberanikan diri berbicara kepadanya, ketika itu selepas kami pulang mengantar anak terkecil kami kedokter karena sudah semingggu setelah ke dokter , badanya panas kembali…saya sedikit ragu , khawatir menganggunya..tapi saya beranikan karena ingin tahu keadaanya..
” Sedang apa bu?
” Lagi nungguin tokonya tutup …”dengan logat bekasi yang kental..
” nunggui apa “
” itu saya mao ngambil kertas-kertas sisa dari A*** Mart yang dibuangin..
” Emang banyak bu..”
“Ya kadang ada kadang engga…ini juga abis keliling perumahan…”
“Ibu sendirian…”
” Iya.”
“Kemarin saya liat sama bapak bu…”
“Iya..dia ada dirumah ngasuh cucu”
“Loh kok bukannya Bapak yang nyari bu”
“Kagak tau…malu kali…abis gimana lagi..saya kalo gak gini gak bisa makan…” saya sedikit berpikir mendengarnya…
“Gak ada anak-anak bu”
” ada , ada 5 anak saya…tapi dia juga ada kerjaanya juga..ada yg jadi kuli bangunan, jual tape..yang begini juga ada…masing-masing aja…
“ini dijual kemana bu”
“ada yang ngambil kerumah..”
“dapet brapa “
“yang kadang dapet banyak..kadang kaga…lumayan lah kalo lagi dapet bisa dapet 5 gantang beras”
“ibu tinggal dimana “
” itu deket pak polisi diatas sana..”
“oh yang deket tk aljabar lurus yaa bu….dirw 3 “
“iya ..saya gak ingat rw ama rwnya”
“Nama ibu siapa “
“Alus…tapi disana ada banyak nama Alus..cari aja Pak Alus”
“oh …iya deh bu…ntar kapan-kapan maen kesana” saya mengakhiri pembicaraan karena istri sudah menunggu ..sambil meminta istri memberikan selembar uang 10 ribuan..
“terima kasih ya tong..moga-moga anaknya sehat..rejekinya banyak”
“terima kasih bu…saya pamit dulu ya” ujar saya sambil menyalakan motor…assalamu’alaikum…” wa’alaikum salam”
Teman…begitulah Mak Alus..yang rela bersusah payah berkeliling dengan gerobak kecilnya memunguti sampah yang masih bisa dimanfaatkan demi membantu keluarganya walaupun hanya dapat menyumbang 50 liter beras sebulannya…sementara sang lelaki harus bekerja di rumah mengasuh cucunya karena dia malu untuk berkeliling memunguti sampah…
pantaslah rosulullah mengajarkan kita bahwa surga berada ditelapak kaki ibu…Mak Alus tidak mau membiarkan anak dan cucunya kelaparan..walaupun sewajarnya jika dia berharap anak-anaknya lah yang mencari kebutuhan untuk diri mereka sendiri dan orang tuanya..
“kasih ibu sepanjang jalan , kasih anak sepanjang penggalan”
Bekasi 25 Juli 2010
Tags: Mak Alus