Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Dari tetangga Sebelah

January 22, 2009

Assalaamu’alaikum wr. wb. Maaf, kami bukan partai murahan seperti itu. Sebelum jadi partai pun kami sudah aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan, apalagi untuk Palestina. Jauh sebelum itu, para qiyadah kami sudah menggadai nyawa demi Palestina. Bagi kami, Al-Quds bukan di seberang lautan, melainkan sejarak uluran tangan. Memang hanya sedikit yang bisa kami lakukan, namun Allah Maha Teliti perhitungan- Nya. Maaf, seandainya yang kami lakukan tempo hari itu dianggap kampanye. Jika kampanye adalah berkumpul, hura-hura, bersorak-sorai, sambil mengenakan atribut partai, maka kami bukanlah partai yang menggantungkan diri pada hal tersebut. Kami hanyalah sekelompok hamba Allah yang sederhana dan mudah dikenali. Jangankan dengan atribut partai, tanpa atribut pun biasanya orang mudah mengenali kami. Kata Al-Qur’an, tidak ada shibghah yang lebih kental daripada shibghah Allah. Sudah pernahkah Anda mendengar kata ini? Jika kaus putih Anda berwarna merah setelah dicelup dalam cairan pewarna merah, itulah shibghah. Iman memang letaknya di dalam hati, namun tak mungkin sepenuhnya disembunyikan. Adakalanya hati ini bangkit ‘izzah-nya dan meluap-luap sampai orang-orang bisa melihatnya dari sorot mata, gurat senyum, dan tangan yang terkepal.

Maaf, kami memang tak pernah mementingkan atribut. Atribut apa pun yang
dipakai, orang bilang kami ini begitu mudah dikenali. Kami hanya berdoa,
itulah shibghah Allah; yang lebih kentara warnanya daripada warna-warni
lainnya.

Kami sadar bahwa kami hidup di tengah-tengah peradaban yang begitu
mementingkan atribut. Dengan atribut pun media massa masih tidak adil
terhadap umat Islam; seolah-olah umat ini tak pernah memeras keringat demi
negara. Masih ada saja yang bilang, “Buat apa mengurusi Palestina,
sementara negeri sendiri ditelantarkan? ” Sebagian diantara kami
berkesimpulan bahwa inilah yang terjadi jika atribut ditanggalkan. Orang
tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bahwa kami pun ikut menyumbang negeri
ini dengan darah, keringat, dan air mata. Oleh karena itu, kami pun tak
berani meremehkan atribut.

Maaf, pikiran kami tak pernah sampai ke tempat yang Anda-Anda bicarakan.
Beberapa hari sebelum aksi itu, SMS bertebaran. Salah satu SMS yang kami
terima berbunyi : “Kerahkan semua tenaga demi Palestina! Sumbangkan waktu,
tenaga, suara dan hartamu untuk jihad! Ikutilah aksi demonstrasi mendukung
Palestina, dari Bundaran HI sampai Kedubes Amerika pada 02/01/09! Kenakan
atribut partai, tunjukkan bahwa kader PKS bulat suaranya mendukung
saudara-saudara kita di Palestina!” Sebagian SMS yang lain nadanya lebih
formil, namun kurang lebih seperti itu. Tak sekalipun terdengar seruan
untuk mendulang suara dari melayangnya nyawa para syuhada di Palestina. Tak
ada secuil pun usaha untuk menarik simpati masyarakat kepada PKS. Semua
orang tahu siapa kami, dan semua orang tahu bagaimana sikap kami terhadap
Palestina. Kami tidak pernah merasa perlu melakukan kampanye dengan cara
begini.

Maaf, jika definisi “partai politik” dalam benak Anda berbeda dengan
kami.
Hemat kami, parpol hanyalah satu dari sekian banyak sarana yang dapat
digunakan, mulai dari memberantas korupsi, menyusun regulasi, mendukung
agenda pengentasan kemiskinan, sampai advokasi terhadap perjuangan rakyat
Palestina. Partai kami tidak banyak duit, sehingga kami tidak bisa
mendulang suara dengan cepat lewat jalur money politic. Kami tidak
menjanjikan uang atau nasi bungkus kepada kader-kader kami untuk berkumpul
di sekitar Bundaran HI. Mereka datang jauh-jauh dari Depok, Bogor , bahkan
Cimahi dan Majalengka, murni dengan biaya sendiri. Mereka rogoh kantung
sendiri untuk datang dan menunjukkan pada saudara-saudaranya di Palestina
bahwa di negeri ini masih banyak yang peduli dengan nasib mereka. Mereka
bahkan diinstruksikan untuk membawa bekal sendiri, meskipun alhamdulillaah
sebagian besar berhasil mengkoordinir konsumsi bersama.
Inilah ikatan yang lebih kuat daripada kewarganegaraan, ikatan perjanjian,
ataupun pertalian darah. Aqidah-lah yang membuat mereka mengesampingkan
semua agenda pada hari itu demi membela saudara-saudaranya yang mati dibunuh
dan hidup ditindas. Aqidah-lah yang membuat jarak sebentang samudera
bagaikan hanya sejarak uluran tangan saja. Mereka adalah saudara-saudara
kami. Orang tua mereka adalah orang tua kami, dan anak-anak mereka adalah
anak-anak kami. Betapa pedih hati ini memikirkan penderitaan mereka, dan
betapa menderita hati kami karena begitu sedikitnya bantuan yang bisa kami
berikan.

Maaf, barangkali pikiran kami memang demikian terlena dengan korban yang
terus berjatuhan di Palestina. Ketika diminta berkumpul, kami pun menjawab
panggilan itu. Menggunakan atribut partai adalah refleks, karena memang
kami adalah kader partai. Banyak juga kader yang tidak punya atribut partai
dan datang seadanya. Tapi tak mengapa, karena memang kami tidak
mementingkan atribut. Itu hanya refleks semata, sekedar untuk menunjukkan
identitas. Memang pikiran kami terfokus penuh kepada Palestina, sehingga
lupa pada aturan Pemilu. Pasalnya, partai kami ini memang tidak hanya sibuk
menjelang Pemilu. Bagi kami, Pemilu hanyalah satu dari sekian banyak hal
dalam agenda partai. Kampanye kami tidak mesti dengan bendera dan
pengerahan massa ,
melainkan yang utama adalah dengan pemikiran dan prestasi.
Semua orang tahu siapa kami.

Maaf, saat itu kami memang tak pernah kepikiran tentang Pemilu. Bukan
sekali ini saja kami mengerahkan sekian ribu kader untuk mendukung
Palestina. Jika 7% pemilih pada tahun 2004 yang lalu memilih PKS, maka kami
ingin semua orang tahu bahwa yang 7% itu semuanya mendukung Palestina.
Itulah manfaat atribut bagi kami, lainnya tidak. Palestina menyita banyak
sekali ruang pikiran kami, sehingga perebutan suara di Pemilu esok hari
terlupakan begitu saja. Maaf jika hal ini barangkali sulit dipercaya, namun
demikianlah adanya. Anda tahu siapa kami.

Maaf, kebanyakan diantara kami memang tak bisa memberikan rumah bertingkat,
mobil mewah, atau sekolah keluar negeri bagi anak-anak dan istri kami.
Namun kami berusaha sebisanya untuk menjaga kehangatan keluarga. Kami ikat
keluarga kami, bukan hanya dengan ikatan keluarga, melainkan juga dengan
aqidah. Ayah, istri, dan anak-anak, semuanya turut mendukung dakwah.
Karena mendukung Palestina adalah tuntutan aqidah, maka kami tak sempat lagi
memikirkan Pemilu dan segenap aturannya. Mungkin jika Anda melepaskan
sejenak kacamata politik konvensional yang selalu Anda kenakan itu, Anda
akan paham apa yang kami jelaskan ini.

Maafkan pula jika reaksi kami berbeda dengan persangkaan orang banyak. Anda
punya kekuatan hukum dan politik untuk menjebloskan para qiyadah kami ke
penjara, tapi Anda takkan punya kuasa untuk memadamkan api dakwah. Anda
semestinya belajar dari Mesir, Turki, atau Palestina; negeri-negeri di mana
dakwah tidak pernah (dan takkan) punah. Kami bukan partai picisan yang
hilang akal jika qiyadah kami dipenjara atau dibunuh sekalipun, dan qiyadah
kami bukanlah aktifis kemarin sore yang terkencing-kencing ketakutan diancam
dengan terali besi. Buya Hamka, Sayyid Quthb, Ahmad Yassin dan banyak
mujahid lain telah mengikuti jejak Nabi Yusuf as. yang tak berhenti
berkembang dari balik jeruji. Jika Allah menghendaki para ulama untuk masuk
penjara, itu artinya mereka dipanggil untuk menyendiri bersama-Nya. Insya
Allah ketika sudah lulus dari ‘madrasah penjara’, mereka telah berkembang
menjadi pribadi yang jauh lebih perkasa dan jauh lebih menyeramkan di mata
musuh-musuh Allah.

Maaf, kami memang beda. Tapi kami meminta maaf bukan karena berbeda,
melainkan karena belum berhasil membuat Anda mengerti. Semua orang tahu
siapa kami. Anda pun pasti tahu. Adakalanya kami berbuat kesalahan, lupa
dan lalai, namun hal itu tentunya tak sampai membuat orang lupa siapa kami
ini sebenarnya. Kami takkan berhenti memperjuangkan apa yang selama ini
kami perjuangkan, dan melawan apa yang selama ini kami lawan. Namun kami
janji, lain kali akan lebih waspada terhadap tipu daya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.
Akmal

Golput

December 19, 2008

Minggu-minggu ini perbincangan tentang golput menjadi sesuatu yang “Menyenangkan ” setelah Dr Hidayat Nur Wahid ( menyelesaikan S3 di Bidang Ilmu Tauhid di Mekkah ) mengusulkan untuk dipertimbangkan Fatwa haramnya golput.

Teman…saya tidak akan membahas alasan Dr Dayat ( begitu biasa beliau dipanggil ) karena saya yakin dengan ilmunya yang sangat dalam dan juga ketaqwaannya yang jauh jika dibandingakan dengan kita-kita, pasti dia memiliki pemikiran yang jauh kedepan, bukan sepeti alasan beberapa orang yang menuduhnya karena ingin partai yang diusungnya menang.

Teman..saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya tentang mengapa kita tidak sebaiknya golput.

Tentunya sebagai orang biasa saja ..saya hanya berpikir yang mudah saja….golput hanya akan memberi kesempatan pemimpin yang mudah menipu pemilih untuk maju sebagai pemenang….mengapa ? karena rata-rata orang yang memilih golput adalah orang-orang yang mampu membedakan orang yang mampu menjadi pemimpin dan orang-orang yang hanya ingin kekuasaan belaka.

Dengan memilih orang yg terbaik dari yang terjelek tentu kerusakan yang dibuat akan semakin sedikit. Bayangkan jika orang-orang yang banyak membuat kerusakan sudah berkuasa ? apa yang dapat kita lakukan …mereka akan menggunakan semua kekuasaannya untuk menekan orang-orang yang mengkritik mereka….dari pada akhirnya lebih sulit untuk memperbaiki mengapa kita tidak berusaha dari awal untuk mencegah mereka untuk memimpin…

menumbangkan pemimpin tidak semudah yang kita bayangkan…

Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati

Andrie…Perempatan Dago

December 15, 2008

Tadi malam setelah anak-anak dan istri saya terpulas saya masih juga blom bisa memejamkan mata, akhirnya sayapun menyalakan televisi, dan memilih salah satu saluran…beberapa waktu ini saluran favorit kami adalah DAAI Tv dana Elshinta karena banyak memuat tema kemanusiaan dan lingkungan serta sosial.

Malam itu DAAI TV menampilkan cerita mengenai Andrie…seorang pengamen jalanan di persimpangan Dago Bandung. Andrie hanya lulusan SMP kelas 2 , dan hdupnya banyak dihabiskan dijalan…

Setiap hari Andrie mencari penghasilan dengan bernyanyi dipersimpangan dago bersama kira-kira 50 teman pengamennya.

Teman yang menarik kali ini adalah perjuangan Andrie untuk bisa keluar dari jalanan. Ia sangat berharap dapat keluar dari jalanan dengan mencari pekerjaan sebagai penyanyi atau pemusik yang menampilkan bakat dan keterampilannya bukan dijalanan.

Setiap hari ia berlatih di Rumah Musik Hari Roesli untuk terus menambah ketrampilan bermain gitar. Andrie cukup senang karena di RMHR dia bukan saja di ajari untuk bermain gitar tapi juga dikenalkan kepada tata krama dan juga diajarkan bersosialisasi dengan Masyarakat umum, karena andrie cukup sedih dengan cap dari masyarakat bahwa para pengamen adalah sampah masyarakat.

Walupun ada beberapa yg seperti itu tapi tidak semua pengamen dan orang-orang jalanan menjadi sampah masyarakat, mereka hanya berjuang untuk tetap hidup.

Kembali ke perjuangan andrie..saat ini andrie telah memiliki group musik yg sering tampil di club, resotran dan acara-acara lainnya. Sesekali ia tampil untuk amal dengan team RMHR.

Ada yg cukup berkesan bagi saya ….Kelompok andre adalah anak-anak putus sekolah, hanya ada satu orang saja yang saat ini masih sekolah di bangku SMP, dan andrie bersama teman-teman nya terus mensupport temannya yg masih sekolah agar tidak putus ditengah jalan, kadang jika ada permintaan tampil pada saat hari sekolah mereka akan meninggalkan temannya tsb betapa temannya marah sekalipun, Andrie dan teman-teman yg putus sekolah tidak mau temannya merasakan pahitnya di jalan, karena andrie berpendapat kehidupan di jalan bukanlah kehidupan yang baik.

Ia bahkan terus mensupport teman-teman yang masih di jalanan agar bisa keluar dari jalanan secepatnya dan tidak ada lagi adik-adiknya yg harus kejalan hanya untuk mendapatkan makan.

Teman betapa mulia hati seorang Andrie yang hanya seorang pengamen jalanan, ia tidak ingin orang lain merasakan penderitaan yang telah ia jalani dan terus menjaga agar orang lain jatuh ke jalan yg salah.

Hikmah adalah harta seorang muslim dan ia mendapatkannya dari siapa saja.

Buruh…nasibmu

December 12, 2008

mendengar kata “buruh” mungkin kita akan teringat kepada pekerja-pekerja kasar di pabrik-pabrik atau dilapangan, tanpa sadar kita yang bekerja di gedung bertingkat-tingkat di depan computer…dan di penjara di sebuah cubical juga adalah seorang buruh.

lihat saja definisi buruh

Kalau melihat definisi  buruh dalam UU No. 22/ 1957 (Tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan),– Buruh adalah mereka yang bekerja  pada majikan dengan menerima upah (pasal 1(a))–, maupun definisi pekerjaan dalam UU No. 12/ 1948 tentang Undang-Undang Kerja tahun 1948,–  pekerjaan adalah pekerjaan yang dijalankan oleh buruh untuk majikan dalam suatu hubungan kerja dengan menerima upah (pasal 1(a))–, maka PRT seharusnya masuk dalam konteks hukum perburuhan. Begitupun dalam aturan-aturan ketenagakerjaan lainnya, seperti dalam UU No. 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja[5].

jadi gak ada bedanya kan….

tapi saya tidak mau berbicara masalah buruh dan majikan yg kompleks…sekarang, saat ini saya hanya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya dan beberapa teman sebagai buruh…

pengalaman yg kami alami rata-rata sama yaitu mulai merasa bosan dan bermasalah dengan atasan…entahlah..karena kita sebagai buruh yang tidak mengerti atasan atau atasan yang tidak mengerti kita…..bagai telur dan ayam.

ya memang seperti itulah nasib sebagai buruh…untung kalo mendapat atasan yg klik dengan kita..kalo engga ya…ye terima lah…bahwa kantor itu bakalan jadi tempat yg paling ingin kita tinggalkan segera..

jadi…beberapa teman yg akhirnya memutuskan untuk berhenti berkarir menjadi buruh sudah mulai keliatan hasilnya…walaupun tentunya masa-masa sulit telah mereka lewati..sementara kami yang belum memutuskan diri dengan ikatan sebagai buruh…ya masih berada diposisi masih seperti ini..pasrah menerima segala cobaan…

jadi tampaknya saya dan beberapa teman harus terus mengasah diri agar mampu mengakhiri karir sebagai buruh….

Kadang saya berandai-andai…ketika masih muda dulu belum berkeluarga sudah memantapkan diri untuk tidak memposisikan diri sebagai buruh..tentu beban yg harus ditanggung tidak seperti  saat ini sudah berkeluarga dengan beberapa tanggungan

tapi harapan itu selalu ada…maju terus pantang mundur…

sebuah penantian…

Ikatan yang sangat kuat….cinta sejati itu.

December 10, 2008

Tanpa sengaja pada hari libur kemarin, saya dan istri saya menyaksikan sebuah acara infotainment..dalam cerita tersebut di kisahkan seorang vokalis dari sebuah band “berwarna “yang sangat-sangat terkenal saat ini , harus menghadapi tuntutan cerai dari sang istri..hal ini disebabkan kecemburuan sang istri karena sang vokalis tertangkap memberikan hadiah spesial kepada seorang artis wanita lain yang juga sangat terkenal dan masih sangat muda…

Teman…entah mengapa..saya dan istri begitu terkesima melihat berita tersebut….bukan hebohnya berita tersebut..tapi…mengapa mudah sepasang suami istri mengucapkan kata cerai…dan tentu saja mengapa bodohnya seorang lelaki yang beristri memberi hadiah spesial kepada wanita lain tanpa merasa akan berdampak pada keluarga .

Teman…saya sering kali tersenyum dan menitikan air mata ketika melihat wajah istri saya ketika dia terlelap dalam tidurnya….karena saya mengingat bagaimana kasih sayangnya kepada saya, bagaimana lelahnya dia dalam merawat anak-anak kami, bagaimana dia merawat saya ketika saya sakit, melayani saya…memijat saya ketika lelah…selalu menyempatkan membukakan pintu ketika saya pulang malam..menawari makan.

Teman..istri saya hanyalah wanita rumah tangga biasa yang kesehariannya habis untuk merawat anak-anak kami dan juga melayani saya, istri saya bukanlah wanita karir yang pandai dalam urusan bisnis atau bidang tertentu. Istri saya hanya wanita biasa yang kadang waktunya diisi dengan kegiatan sosial kecil-kecilan di sekitar rumah untuk mendapatkan tambahan pahala kebaikan.

Tapi saya merasa saya mendapatkan anugrah dari Allah, karena saya tidak yakin akan mendapatkan apa yang saat ini saya dapatkan dari wanita lain. Saya tidak yakin wanita lain akan menerima segala kekurangan yang begitu banyak yang saya miliki saat ini.

Teman..setiap kali marah saya, lelah saya, hilangnya semangat saya….saya selalu mengingat bagaimana pertama kali kami berjumpa, memutuskan menikah , bagaimana kami melewati tahun pertama pernikahan kami , putri pertama kami, putri kedua….membangun rumah…mengatasi masalah bersama..wajahnya ketika terlelap.

Teman…Apakah memang begitu mudah untuk mengatakan berpisah terhadap orang yang telah lama bersama, berjuang bersama, bahagia, sengsara….jangan pernah untuk mencoba menyakiti orang yang telah bersama kita dengan melalukan perbuatan yang tidak pantas untuk dilakukan…jangan pernah untuk mencoba atau bahkan mendekati.

Ketika tiba saatnya cobaan dan godaan datang…ingatlah selalu orang yang telah memberi begitu banyak kebahagiaan untuk kita…anak-anak yang terus berharap kasih sayang dari kedua orang tuanya…lihat wajah mereka ketika malam telah menenggelamkan semua kesibukan manusia.

Teruslah berdoa agar cinta sejati itu terus ada dihati kita.

Kambing Hitam…upss…Kurban

December 6, 2008

Sebulan sebelum saat berkurban tiba…saya sudah tidak begitu yakin saya dapat memenuhi sunnah yang satu ini…walaupun harapan terus saya tanam dalam hati …begitu banyak kebutuhan yang datang mendadak..sehingga impian saya untuk terus berkurban setiap tahun semakin tipis dan saya simpan dalam hati.
tapi istri saya yang tercintalah yang selalu menjaga harapan saya dari hari ke hari..dan kadang saya melihatnya melakukan shollat dhuha.

seminggu sebelum hari raya kurban harapan itu semakin belum nyata. walaupun ada harapan untuk dapat berkurban pada hari ketiga, tapi itu masih sebuah harapan.

Kadang terasa miris di hati ketika petugas musholla menawarkan apakah saya hendak ikut berkorban di mushola kantor, atau bahkan ketika melihat brosuir kurban tergeletak di meja rak sepatu mushola….saya masih blom berani menyentuh brosur tersebut.

Jumát pagi sebelum berangkat ke kantor seperti biasa saya masuk ke kamar anak-anak untuk sekedar melihat mereka dan merapikan pakaian….tiba-tiba istri saya membisikan khabar yang saya nanti-nanti ……alhamdulillah..hari ini kami mendapat arisan..sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, karena saya tidak begitu peduli dengan arisan yang diikuti oleh istri saya…bahkan saya tidak pernah tau apakah istri saya ikut atau tidak.

Semakin yakin lah hati ini kepada Janji-janji Allah untuk memudahkan siapa-siapa saja hambanya yang ingin berbuat kebaikan.

Tahun ini saya sebenarnya ingin melakukan kurban di tempat-tinggal saya. tapi niat ini saya batalkan karena entah mengapa saya kadang terbesit bahwa saya ingin melakukan kurban di wilayah rumah hanya agar saya tidak di sebut sebagai warga yg kurang peduli dan tidak disebut warga yang baik . Karena takutnya saya akan apa yang terlintas dan terbesit dalam hati ini maka saya putuskan untuk berkurban melalui yayasan yg akan memberikan hewan kurbannya ke masyarakat yang saya tidak mengenal dan mengetahui tetapi saya yakin mereka membutuhkan daging-daging kurban yang bahkan mungkin tidak bisa mereka rasakan sepanjang tahun ini.

Semoga Allah menerima niat saya dalam berkurban dan saudara-saudara saya nan jauh disana dapat menikmati kebahagiaan walau sehari saja.

Pilkada

January 22, 2008

pilkada.jpgSudah berbulan-bulan kami mencurahkan perhatian dan pikiran untuk persiapan dan “Pertempuran” di ajang Pilkada. Pilkada yang merupakan pesta demokrasi untuk mencari pemimpin di salah satu daerah. Jika dahulu pemilihan kepala daerah dilakukan oleh anggota DPRD yang telah di pilih dalam pemilihan umum, maka saat pemilihan kepala daerah dilakukan langsung.

Entah berapa banyak Biaya, waktu dan tenaga dicurahkan untuk ajang ini, kadang saya yang juga ikut dalam proses ini berpikir betapa kegiatan ini sangat menganggu pembangunan suatu daerah. Jika saja semua wakil rakyat yang terpilih dalam proses PEMILU dapat menjaga AMANAH yang telah diberikan oleh para pemilih tentu saja kegiatan PILKADA ini tidak perlu dilakukan. Sayangnya Sebagian Wakil Rakyat tidak lagi memilih pemimpin dengan hati nuraninya tetapi lebih kepada kepentingan perut dan di bawah perut.

Maka masyarakat tidak lagi memberi kepercayaan kepada orang-orang yg telah dipilih untuk menentukan pimpinan mereka ” Kami akan menentukan pimpinan kami sendiri “

Pilkada juga menjadi perang ideologi bagi sebagian masyarakat, entah mereka mengerti atau tidak apa yg ditawarkan oleh pimpinan mereka, sementara sebagian lagi memang telah memeperjuangan ideologi yang mereka yakini dan mempelajarinya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Beruntunglah orang-orang yg seperti ini karena mereka tau apa yang mereka perjuangkan, bukan fanatisme buta kepada pemimpin atau mungkin fanatisme kepada uang. Maka PILKADA menjadi pertarungan bagi kebenaran dan kebaikan melawan kebatilan dan kejahatan. Karena tidak sedikit dari peserta PILKADA yang menghalalkan segala cara untuk bisa menang dalam pertempuran ini, politik uang sudah menjadi peraturan resmi bagi orang-orang culas, tetapi kecurangan yang lebih canggih mungkin akan semakin banya ditemukan dari mengatur proses pilkada, menekan orang-orang yang mengatur proses pilkada dll.

Jika saja semua pemimpin dan wakil rakyat dapat dipercaya begitu banyak uang, tenaga dan pikiran yang dapat dicurahkan untuk membangun suatu daerah, atau jangan-jangan Demokrasi semu ini hanya rencana negara-negara yg telah maju untuk terus menyibukan negara-negara yg baru menyadari ketertinggalan negara mereka.

Tetapi tampaknya kita saat ini belum bisa meninggalkan demokrasi sebagai suatu acara dalam proses pemilihan kepeminpinan, maka nikmatilah semua kebaikan dalam demokrasi ini dan tinggalkan semua keburukan yang ada.

Karena pasti ada hikmah dalam semua peristiwa, dan teruslah memperbaiki proses ini, sehingga kita akan menemukan proses pemilihan pemimpin yang sebenarnya.